Selasa, 27 September 2011


Hati, Mata dan Telinga

Bismillah,,
Allah SWT menciptakan manusia dengan pelbagai kewajiban yang menyertainya: mata dengan kemampuan melihat, telinga dengan kemampuan mendengar, dan hati dengan kemampuan mempersepsi (memahami). Di lain pihak ada manusia yang tidak bermata (matanya tidak berfungsi) tetapi dapat melihat, telinganya rusak tetapi tidak tuli alias peka terhadap ayat-ayat Allah.

Di hari kiamat kelak, penglihatan, pendengaran, serta pemahaman, semua itulah yang dimintai pertanggung jawaban. Adapun mata, telinga, dan hati fisikal hanya didudukan sebagai saksi.

Manusia yang paling buruk ialah yang tidak bisa memanfaatkan tiga unsur keajaiban manusiawi itu demi mengetahui kebenaran Allah dan ayat-ayat-Nya. Sehingga, Allah sampai mensejajarkan mereka dengan binatang ternak, bahkan lebih buruk lagi, dan tempat kembali mereka diakhirat kelak adalah neraka jahanam.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka) jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai “. (QS.7:179 lihat QS.46:26 dan QS.17:36).

Tiga alat vital dalam agama dan kehidupan manusia ini seringkali tidak mendapat asahan dan asuhan yang memadai dalam rangka merengkuh suatu perubahan yang konstruktif dalam hidup, yaitu menambah ketajaman penglihatan, pendengaran ataupun pengelolaan hati (manajemen qalbu) dijalan Allah. Sebaliknya, kebanyakan manusia lebih memperturutkan dirinya pada hawa nafsu yang ditunggangi kebobdohan, dusta, dan prasangka yang tidak berdasar (QS.6:148; QS.27:84).

Marilah bersama-sama menjaga hati, mata dan telinga kita agar tidak tunduk dalam arahan hawa nafsu. Ketiganya haruslah diasah dan dikelola untuk mengetahui, mengerti, serta memahami ayat-ayat Allah, baik yang kauniyah (alam dan lingkungan sekitar) maupun yang kauliyah (Al-Qur’an dan As-Sunnah). Sehingga, kita selalu hidup sesuai kehendak-Nya dan semakin mulia kedudukan kita disisi-Nya. Tanpa mengupayakan hal itu, niscaya hidup kita akan gelap dan tidak terarah, dan lebih celakanya lagi, diakhirat kita kelak akan menghadap Allah dalam keadaan buta, tuli, dan bisu (meskipun didunia ini keadaan fisikal kita normal, tanpa cacat apapun), disebabkan dosa kita yang amat besar, yakni mengabaikan dan lalai akan ayat-ayat-Nya. (QS.17:97). wallohua'lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar