Hati,
Mata dan Telinga
Bismillah,,
Allah SWT menciptakan manusia dengan pelbagai kewajiban yang
menyertainya: mata dengan kemampuan melihat, telinga dengan kemampuan
mendengar, dan hati dengan kemampuan mempersepsi (memahami). Di lain pihak ada
manusia yang tidak bermata (matanya tidak berfungsi) tetapi dapat melihat,
telinganya rusak tetapi tidak tuli alias peka terhadap ayat-ayat Allah.
Di hari kiamat kelak, penglihatan, pendengaran, serta pemahaman,
semua itulah yang dimintai pertanggung jawaban. Adapun mata, telinga, dan hati
fisikal hanya didudukan sebagai saksi.
Manusia yang paling buruk ialah yang tidak bisa memanfaatkan tiga
unsur keajaiban manusiawi itu demi mengetahui kebenaran Allah dan ayat-ayat-Nya.
Sehingga, Allah sampai mensejajarkan mereka dengan binatang ternak, bahkan
lebih buruk lagi, dan tempat kembali mereka diakhirat kelak adalah neraka
jahanam.
“Dan sesungguhnya Kami jadikan
untuk (isi neraka) jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai
hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka
mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan
Allah), dan mereka mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti binatang ternak, bahkan
mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai “. (QS.7:179
lihat QS.46:26 dan QS.17:36).
Tiga alat vital dalam agama dan kehidupan manusia ini seringkali
tidak mendapat asahan dan asuhan yang memadai dalam rangka merengkuh suatu
perubahan yang konstruktif dalam hidup, yaitu menambah ketajaman penglihatan,
pendengaran ataupun pengelolaan hati (manajemen qalbu) dijalan Allah.
Sebaliknya, kebanyakan manusia lebih memperturutkan dirinya pada hawa nafsu
yang ditunggangi kebobdohan, dusta, dan prasangka yang tidak berdasar
(QS.6:148; QS.27:84).
Marilah bersama-sama menjaga hati, mata dan telinga kita agar tidak
tunduk dalam arahan hawa nafsu. Ketiganya haruslah diasah dan dikelola untuk
mengetahui, mengerti, serta memahami ayat-ayat Allah, baik yang kauniyah (alam dan lingkungan sekitar) maupun
yang kauliyah (Al-Qur’an dan
As-Sunnah). Sehingga, kita selalu hidup sesuai kehendak-Nya dan semakin mulia
kedudukan kita disisi-Nya. Tanpa mengupayakan hal itu, niscaya hidup kita akan
gelap dan tidak terarah, dan lebih celakanya lagi, diakhirat kita kelak akan
menghadap Allah dalam keadaan buta, tuli, dan bisu (meskipun didunia ini
keadaan fisikal kita normal, tanpa cacat apapun), disebabkan dosa kita yang amat
besar, yakni mengabaikan dan lalai akan ayat-ayat-Nya. (QS.17:97). wallohua'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar